Yoyo tidak sekedar berputar

Ini dia mainan berusia ribuan tahun. Sekarang sudah ada perkumpulannya. Bahkan semakin canggih saja berkat penemuan rahasia putaran yoyo.

Sejarah Tasawuf

Ditinjau dari segi historis, Tasawuf memang merupakan hal yang baru, dan Rasulullah SAW tidak mengajarkan hal tersebut secara konkret. Oleh karena itu beberapa dari kaum Ulama menafikan adanya tasawuf dan secara ekstrim memvonis Tasawuf sebagai perkara yang bid’ah dan menyesatkan.

Seluk-beluk DotA

Defense of the Ancients (atau disingkat DotA) adalah sebuah custom map (peta buatan) untuk permainan komputer buatan Blizzard berjudul Warcraft III:Frozen Throne, yang dibuat berdasarkan map "Aeon of Strife" dari permainan Blizzard lainnya, StarCraft.

Fifa 13 Ungguli PES 2013!

Seperti yang kita ketahui, duel seru antara dua franchise game bola terhebat di tahun 2013 ini telah terjadi diperalihan bulan September-Oktober kemarin. Hasilnya?

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Sejarah Tasawuf


SEJARAH TASAWUF
TINJAUAN TERHADAP BUKU INTELEKTUALISME TASAWUF
Karangan Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, MA dan Drs. H. Masyharuddin, MA

Ditinjau dari segi historis, Tasawuf memang merupakan hal yang baru, dan Rasulullah SAW tidak mengajarkan hal tersebut secara konkret. Oleh karena itu beberapa dari kaum Ulama menafikan adanya tasawuf dan secara ekstrim memvonis Tasawuf sebagai perkara yang bid’ah dan menyesatkan. Terlebih lagi beberapa dari amalan tasawuf telah terkontaminasi oleh pemikiran dan amalan yang sepintas mirip dengan amalan-amalan yang dilakukan oleh agama di luar Islam, seperti Hindu dan Budha yang menganut konsep penyucian jiwa yang hampir sama dengan tasawuf.
Sebelum abad ke-12 Hijriah, dalam menghadapi pertumbuhan ajaran sufisme para penegak dan pembela syariat menanggapinya dengan sikap curiga. Sikap ini kemudian meningkat jadi celaan yang menimbulkan ketegangan dan bahkan lalu memuncak dengan pengkafiran dan penghukuman mati terhadap Al-Hallaj yang mereka nilai sebagai perusak dan penyeleweng dari konsep tauhid Islami.
Hal lain yang menghambat pertumbuhan tasawuf pada masa itu ialah munculnya gerakan pemurnian syariat pada abad ke-18 Masehi yang bernama gerakan Wahabi. Dipelopori oleh ulama yang berwatak tegas, yaitu Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Semboyan gerakan ini adalah “kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah” sepanjang pemahaman dan pengalaman ulama-ulama salaf (para sahabat nabi). Ajaran Wahabiyah ini nampak diilhami oleh orientasi Hambaliah Salafiah yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah secara harfiyah, dan juga ajaran Ibnu Taimiyah.
Maka bisa dipahami bahwa gerakan ini laksana pisau bermata dua. Pertama, dalam bidang akidah atau ilmu kalam, menolak penobatan akal sebagai dalil dalam agama; dan mempertahankan Hadis Nabi atau Sunnah sebagai pegangan di dalam masalah akidah atau ilmu kalam.
Wajah yang kedua, dalam upaya pemurnian dan kebangkitan syariat adalah anti setiap bid’ah dan khurafat (ketakhayulan), dan menilai tasawuf merupakan sumber utama pemunculan bid’ah (dalam bidang ibadah), dan khurafat (dalam bidang akidah). Oleh karena itu aksi gerakan Wahabi adalah pembersihan ajaran tasawuf beserta tarekat-tarekatnya dari bumi kerajaan Arab Saudi melalui tangan raja Ibnu Saud yang merupakan tangan kanan Ibnu Abdul Wahhab.
Sikap tegas dari para pembela kemurnian syariat ini kemudian kendur atau melunak sesudah Imam Al-Ghazali mampu menyusun sistem yang mengkombinir secara serasi antara dengan penghayatan kasyfi dalam tasawuf. Bentuk kompromi yang menyelaraskan syariat dengan tarekat dan penghayatan hakikat dan makrifat yang disodorkan Imam Al-Ghazali ini ternyata mampu memuaskan bagian terbesar dari umat Islam serata alam Islam.
Masalahnya, mengapa Al-Ghazali berhasil menjinakkan para pembela syariat? Hal ini mungkin karena masa abad 12 itu penalaran yang kritis dan jiwa mujtahid telah mulai meredup bagi para ulama bagian timur. Redupnya mental ijtihad dan penalaran yang kritis dengan tersisihnya filsafat di dunia Muslim bagian timur ini yang mungkin menyuburkan sikap kompromis. Maka orientasi faham syariat tidak lagi menekankan pada upaya pemurniannya, akan tetapi perluasan dan pemerataannya dalam masyarakat.
Beberapa hal di atas merupakan segelintir perjalanan Tasawuf dari sejak jaman kemunculannya hingga pembentukan dan pertumbuhannya. Memang patut dikatakan bahwa perjalanan Tasawuf banyak mengalami hambatan-hambatan yang cukup berat. Yang pada akhirnya menjadikan tasawuf sebagai sebuah ajaran bid’ah dan menyesatkan. Namun pada akhirnya Tasawuf berhasil melalui hambatan-hambatan itu dan keluar menjadi sebuah jalan yang dapat diterima oleh umat Islam.
Di dalam buku ini dijelaskan bagaimana awal kemunculan tasawuf, yang ternyata sudah mulai nampak pada masa khulafaurrasyidin. Perbuatan-perbuatan dosa yang telah dilakukan pada masa itu telah membuat beberapa kalangan Muslim menjadi gundah, sehingga mereka mulai mencari ketenangan dengan kembali membangkitkan ajaran Islam melalui amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Dari sinilah sebenarnya konsep sufisme mulai terbentuk. Di mana bertasawuf adalah suatu proses pensucian diri dan berusaha sedekat mungkin dengan Allah SWT melalui ibadah.
Kemudian tasawuf mulai berkembang menjelang abad kedua Hijriah, Ditandai dengan munculnya pola hidup zuhud yang banyak dianut oleh kalangan Muslimin pada saat itu. Orang-orang mulai mencari makna sebenarnya dari beribadah, yang membuat hati mereka menjadi tenang dengan terus mengingat-Nya. Pada saat itu kaum Muslimin belum mengenal hal tersebut dengan istilah Tasawuf. Istilah tasawuf dipakai pada pertengahan abad II Hijriah, dan pertama kali oleh Abu Hasyim al-Kufy (W 250 H).
Dari sekian banyak proses di atas menandakan bahwa pada hakikatnya manusia menghendaki ketenangan dalam dirinya. Dengan bertasawuf, ketenangan tersebut dapat diraih melalui amalan-amalan dan ibadah. Namun perlu diperhatikan, bahwa Tasawuf harus sejalan dan seiring dengan syariat. Karena pada dasarnya, syariat merupakan sebuah ketentuan yang harus ditaati dan dijalankan. Tasawuf merupakan sebuah tingkatan dalam pelaksanaan syariat. Dimana ketika seseorang menjalankan syariat, jiwanya menjadi tenang dan damai dengan melaksanakan ibadah yang sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat.
Oleh karena itu, jalanilah syariat sebagai sebuah kebutuhan, bukan sebagai beban yang akan hilang jika dilaksanakan. Dan bukanlah melaksanakan syariat hanya sekedar untuk melepas kewajiban saja, melainkan sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Dinamika Pendidikan Pada Masa Al-Ma'mun



 Khalifah Al-Ma’mun memiliki nama lengkap Abu Jafar Al-Ma’mun bin Harun. Orang Barat memanggilnya dengan sebutan Almamon. Ia terlahir pada 14 September 786 M. Al-Ma’mun di lahirkan enam bulan lebih dulu dari saudara sebapaknya Al-Amin. Sang khalifah bergelar Abu Al-Abbas. Ayahnya adalah Khalifah Harun Ar-Rasyid. Sedangkan ibunya adalah seorang bekas budak yang bernama Murajil.
Al-Makmun menjadi khalifah setelah saudaranya Al-Amin meninggal dunia, sebagai khalifah yang ke-8 dari Daulah Abbasiyah, Ia terkenal sebagai seorang administrator yang termasyhur karena kebijaksanaan dan kesabarannya. Ia mencurahkan perhatiannya yang besar pada tugas reorganisasi pemerintahan ketika mengalami kemunduran selama pemerintahan Al-Amin. Ia melakukan peninjauan pengurus rumah tangga istana. Ia mengangkat para administrator yang ahli unuk menjadi gubernur di berbagai propinsi dan terus mengawasi langkah mereka.
Khalifah Al-Makmun yang berbasis pangikut di Persia mengalami kemajuan di berbagai bidang, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ketika Al-Makmun memerintah timbul masalah agama yang pelik, yakni faham apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan. Sejak Al-Hadi (paman Al-Ma’mun) wafat ketika awal pemerintahan Al-Ma’mun muncul ilmu Falsafi (Al-Qur’an) dan munculnya ilmu kedokeran. Ia mewajibkan kepada para ulama menghapal Al-Qur’an. Munculnya pemahaman Al-Qur’an ini makhluk dikemukakan Al-Mu’tasyim (saudara Al-Ma’mun).
Konsep dasar Pendidikan Islam pada masa Al-Ma’mun adalah konsep dasar Pendidikan Islam Mutikulrural dan Multikultural di Intuisikan. Sedangkan pengaruh pendidikan multikultural pada masa itu, yaitu terjalinnya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa yang lain, terjalinnya toleransi terhadap agama, munculnya filsafat Islam dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh Pendidikan Multikultural seperti Khalifah Al-Ma’mun, Muhammad Ibn Musa Al-Hawarizmi dan Al-Kindi.
Perkembangan pendidikan Islam mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Al-Ma’mun. Dialah khalifah yang banyak perhatiannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Dialah yang memprakarsai gerakan pemikiran dalam sejarah, sekaligus sebagai pemrakarsa paling besar dalam penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani dan Suryani. Usahanya merupakan langkah pemula bagi gerakan penulisan yang dilakukan oleh para pemikir dan cendekiawan Islam untuk disumbangkan kepada kehidupan manusia.
Kemajuan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya pada masa Al-Ma’mun telah banyak mengundang perhatian pada ahli baik dari Barat maupun Timur. Hai ini dapat dilihat dari buku-buku sejarah dan pemikiran yang ditulis oleh berbagai pakar cenderung melihat kemajuan yang pernah dicapai dalam sejarah khalifah Al-Ma’mun. Memang tidak berlebihan jika Al-Ma’mun adalah satu-satunya khalifah Abbasiyah yang paling gemilang dalam mengukir kemajuan umat Islam dalam sejarah keilmuan.

Mind Map Kepemimpinan Pendidikan


Kalau tidak jelas klik di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...